Wednesday, March 31, 2010

Cuma Keluhan terhadap Sinetron Indonesia yang (Semakin Lama Semakin) Gak Jelas dan Gak Masuk Akal



Silahkan bilang aku nyinyir. Memang benar. Nampaknya aku ini selalu bikin dosa setiap kali tidak sengaja melihat (iya cuma melihat, bukan menonton. Kalau menonton kan menyaksikan filmnya dari awal sampai selesai) sinetron yang di televisi itu. Bagaimana gak nambah dosa, setiap kali kebetulan melihat, selalu saja komentar miring dan nyinyir. Cuma mencela dan malah jadi gregetan sendiri.

Aku tahu membuat suatu cerita film itu tidak mudah, melibatkan skenario yang bagus (dan membuat skenario pun tidak mudah), kru-kru film, pemain-pemain yang harus berakting mempresentasikan skenario yang dibuat, dan unsur-unsur lainnya. Posisiku di sini cuma sebagai penonton yang jenuh karena setiap hari disuguhi tontonan dengan cerita (yang menurutku dan banyak orang lainnya) tidak bermutu. Yah, jangan salahkan aku kalau akhirnya setiap kebetulan melihatnya, mulutku ini tercetus kata-kata yang tidak enak didengar. Hahaha..

Pada akhirnya, sebisa mungkin aku menghindari sinetron yang ada di televisi. Kalau seperti FTV (Film Televisi) atau mini seri, mungkin masih cukup menarik untuk ditonton. Karena ceritanya tidak berlarut-larut dan mengikuti rating. Kalau mengikuti rating kan semakin tinggi ratingnya, semakin banyak iklannya, dan semakin lama pula sinetron itu tamat. Itu berarti pula ceritanya semakin aneh, semakin bertele-tele, dan semakin gak jelas isinya apa karena banyak (detail-detail) yang tidak masuk akal. *Duh.. Ya Gusti, ampunilah dosa-dosaku..


Sepertinya pembodohan publik ini terus berlangsung. Tidak ada tontonan yang mendidik. Menarik, iya mungkin bagi banyak orang. Mendidik? Sepertinya tidak. *Atau ini cuma perasaanku saja??* Menurutku sinetron Indonesia itu bagaikan campuran antara telenovela dan film India. Kedua film itu sudah jaminan cerita yang panjang, film Indonesia merupakan campuran keduanya, sudah pasti yaaa lebih panjang. Jam pemutaran filmnya pun seperti maraton, yang dimulai dari sekitar jam 5 atau jam 6 *CMIIW-correct me if I'm wrong* sampai hampir tengah malam. Pemirsa sinetron ini umumnya adalah ibu-ibu rumah tangga *yang kerjaannya memang dirumah jagain anak*, pembantu rumah tangga, dan anak-anak kecil. Umumnya sih orang-orang yang tidak mempunyai hiburan lain selain televisi. :D

Hal inilah yang membuatku malas nonton televisi. *Bilang aja gak punya tivi kabeeel neeek* Malas nonton televisi analog maksudnya. Kalau punya televisi digital, mungkin lain ceritanya, karena masih banyak channel dan program yang layak ditonton. Makanya, kalau ada temenku yang lagi mau ngegosip artis denganku, sudah pasti gak sukses. Percuma, lha wong nonton televisi aja engga, mana kenal artis. Hahahaha.. Selain itu dosanya juga gak cuma mencerca dan mencela, tapi juga langsung berprasangka buruk. Misalnya pas melihat iklan sinteron yang akan tayang *trailer bahasa kerennya* dan melihat kayaknya ceritanya bagus, langsung mikir jelek, "ini cerita ngejiplak dari film apa ya?". Hahahahaaa *Bener-bener harus banyak-banyak istigfar deh. :))

Berharap para insan pertelevisian bisa membuat cerita yang lebih masuk akal dan lebih mendidik. Lebih menarik dan mendidik. Lebih mencerdaskan dan mendidik. Yah, pokoknya begitulah intinya. Sepertinya judulnya saja, cuma keluhan seorang penonton terhadap sinetron indonesia yang (semakin lama semakin) gak jelas dan gak masuk akal. Sudah mulai meracau gak jelas di belakangnya. :D

No comments:

Post a Comment